Radar Singkil | – Peringatan Hari Bhayangkara ke-79 di Kabupaten Aceh Singkil bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah panggung refleksi bagi jajaran kepolisian yang selama ini berdiri di garda depan pengamanan dan pelayanan masyarakat. Dalam suasana pagi yang teduh pada 1 Juli 2025,
Halaman Markas Kepolisian Resor Aceh Singkil dipenuhi barisan tegap berseragam Polri dan tamu undangan dari berbagai institusi.
Upacara ini dipimpin langsung oleh Kapolres AKBP Joko Triyono, S.I.K., M.H., dengan AKP Didik Surya, S.H., sebagai komandan upacara. Hadir pula jajaran TNI, pejabat pemerintah kabupaten, tokoh adat, serta perwakilan-perwakilan yang menjadi mitra Polri dalam berbagai kegiatan sosial.
Dalam amanatnya, Kapolres tidak hanya menyampaikan pesan institusional, tetapi juga mengetuk hati para personel dengan refleksi yang humanis.
“Bhayangkara bukan hanya sekedar perayaan seremonial semata, tetapi dapat dijadikan momentum untuk refleksi dan evaluasi kinerja dan pengabdian seluruh jajaran Polres Aceh Singkil kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Hari Bhayangkara juga harus kita jadikan momentum mengenang jasa-jasa, seraya mendoakan para pahlawan serta para pendahulu kita yang telah gugur mendahului dalam pelaksanaan tugas,” kata AKBP Joko Triyono.
Menghargai Pengabdian, Bukan Sekadar Pakaian Dalam rangkaian syukuran usai upacara, Polres Aceh Singkil memberikan penghargaan kepada para personel yang dianggap memberikan kontribusi luar biasa dalam menjalankan tugas di tengah masyarakat. Yang paling menonjol adalah penghargaan terhadap 18 personel yang dengan cekatan mengungkap kasus pembunuhan tragis seorang guru oleh suaminya sendiri di Kecamatan Kota Baharu.
Kasus tersebut mengguncang masyarakat dan menjadi perhatian luas. Namun berkat kerja cepat, terkoordinasi, dan profesional, pelaku berhasil diamankan dalam waktu singkat, sekaligus mengembalikan rasa aman masyarakat setempat.
Di sisi lain, dua personel dari Satuan Intelkam diapresiasi karena mampu menuntaskan proses penerbitan 1.444 SKCK dalam waktu yang sangat terbatas, menjelang seleksi PPPK. Keberhasilan ini dianggap sebagai wujud nyata dedikasi dan efisiensi kerja birokrasi kepolisian yang kerap kali luput dari perhatian publik.
Sementara itu, dalam aspek kemanusiaan, dua anggota Sat Polairud turut menerima penghargaan karena berhasil menyelamatkan nyawa seorang warga yang terseret ombak saat pelaksanaan acara adat Tolak Bala di Pantai Pulo Sarok. Aksi heroik itu terekam dalam ingatan masyarakat dan menjadi bukti bahwa Polri tidak hanya bertugas menindak, tetapi juga menyelamatkan.
Penghargaan khusus diberikan kepada Bripka Zuryadi PS, Kanit Bhabinkamtibmas Sat Binmas, yang dikenal konsisten turun ke desa-desa, mendengarkan langsung keluhan warga, serta mengawal program-program sosial kemasyarakatan. Keberadaannya di tengah masyarakat menjadi representasi Polri yang membumi dan bersahabat.Hari Ulang Tahun yang Dihadiri Seluruh Elemen
Di tengah suasana kebersamaan, peringatan Hari Bhayangkara ini juga diwarnai dengan kejutan berupa tumpeng dan kue ulang tahun dari Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil, Kodim 0109, dan Kejaksaan Negeri. Simbol-simbol kecil ini bukan sekadar hadiah, melainkan bentuk penghormatan terhadap dedikasi yang tak terlihat oleh mata kamera, namun terasa nyata di tengah masyarakat.
Kapolres menyambut simbolik tersebut dengan ungkapan syukur dan komitmen untuk menjaga sinergi lintas institusi.
Fun Bike: Mengayuh Bersama, Membangun Kepercayaan
Rangkaian peringatan juga dimeriahkan dengan kegiatan sepeda santai bertajuk “Gowes Semangat Kebersamaan”. Ratusan peserta dari kalangan aparat, ASN, pemuda, guru, dan komunitas sepeda lokal mengikuti rute yang membentang dari Mapolres menuju pesisir Kecamatan Singkil.
Kegiatan ini bukan semata olahraga, tapi sebuah simbol: bahwa kebersamaan bisa dibangun bukan hanya lewat senjata atau seragam, tetapi juga melalui peluh dan kayuhan yang sejajar.
Bagi sebagian peserta, momen ini menjadi ruang interaksi tanpa jarak dengan para polisi yang selama ini mereka lihat dalam tugas resmi. Tidak sedikit anak-anak dan remaja yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berfoto, bertanya, bahkan bercengkerama dengan aparat kepolisian yang biasanya terlihat serius.
Lebih dari Sekadar Tanggal Merah
Hari Bhayangkara ke-79 di Aceh Singkil menjadi pengingat bahwa kerja keamanan adalah kerja sunyi yang kerap tak terlihat. Di balik seragam dan upacara, ada pengorbanan, keberanian, dan juga keraguan yang ditanggung oleh para penegak hukum dalam diam.
Namun pada hari istimewa ini, mereka berdiri bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk terus diingat bahwa tugas menjaga masyarakat bukan hanya milik mereka, tetapi tanggung jawab bersama seluruh warga bangsa.(Red)




























