RADARSINGKIL.CO | – Dari SD Sikontang hingga Pesantren Desa Lipat Kajang Atas, jalan penghubung lintas provinsi Subulussalam – Aceh Singkil itu kini bukan lagi urat nadi, tapi jebakan maut.
Setiap hari dilalui anak sekolah, petani pengangkut hasil bumi, hingga ibu hamil yang butuh pertolongan darurat. Namun kondisinya memprihatinkan.
Badan jalan sempit kian terjepit semak dan rumput liar setinggi dada orang dewasa. Di tikungan tajam, pandangan buntu total. Adu banteng hanya soal waktu.
Pengendara roda dua jadi korban paling sering terperosok, terpental, luka hingga patah tulang.
”Kondisinya sudah sangat parah. Kalau dihitung biaya aspal untuk menambal seluruh lubang saja sudah sangat besar, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil,” keluh warga kepada RADARSINGKIL.CO, Jumat (2/10/2026).
Saat hujan, lubang tertutup genangan keruh. Jalan dan kubangan tak bisa dibedakan. Ditambah lalu-lalang truk pengangkut CPO yang memperparah kerusakan.
Padahal Dana Otonomi Khusus triliunan rupiah mengalir ke Aceh tiap tahun. Warga pun bertanya, ke mana anggaran itu pergi?
”Kami tidak butuh janji lagi. Kami butuh bukti nyata di lapangan. Jangan hanya hadir saat musim kampanye,” desak warga.
Masyarakat mendesak Pemkab Aceh Singkil dan Pemprov Aceh segera turun dengan alat berat dan aspal, bukan wacana. Jangan tunggu korban jiwa berikutnya.




























