RADAR SINGKIL | – Tensi politik di Aceh Singkil memanas setelah Bupati Safriadi Oyon Hamzah melontarkan sindiran yang dinilai merendahkan gerakan mahasiswa. Alih-alih merangkul aspirasi, respons provokatif sang kepala daerah justru dipandang sebagai cermin rapuhnya mentalitas kepemimpinan dalam menghadapi kritik terbuka.
Ketegangan ini bermula dari aksi unjuk rasa mahasiswa yang menuntut transparansi dan perbaikan kinerja pemerintah daerah. Namun, tanggapan bernada ejekan dari pendopo bupati justru menjadi bensin yang membakar semangat perlawanan para aktivis muda.
Koordinator Lapangan Solidaritas Mahasiswa Pemuda Aceh Singkil (SOMPAS), M. Yunus, menilai pernyataan Bupati bukan sekadar seloroh, melainkan kegagalan moral seorang pemimpin.
“Sindiran itu bukan cerminan kepemimpinan yang kuat, tapi tanda kepanikan. Ketika kekuasaan tidak mampu menjawab kritik dengan data dan kebijakan, maka yang keluar adalah ejekan. Ini mempermalukan wajah demokrasi di Aceh Singkil,” tegas Yunus dalam pernyataan resminya.
Menurut SOMPAS, narasi meremehkan yang dibangun pemerintah merupakan upaya sistematis untuk mendelegitimasi gerakan moral mahasiswa. Mereka meyakini bahwa di balik tawa sinis kekuasaan, terdapat ketakutan besar akan terbongkarnya rapor merah pemerintahan.
Kritik mahasiswa bukanlah tanpa alasan. SOMPAS menyoroti sejumlah masalah krusial yang dianggap sebagai bukti kinerja “amburadul” Pemkab Aceh Singkil,
Keterlambatan APBK: Menghambat roda ekonomi dan pelayanan publik.
Infrastruktur Rusak: Kegagalan perbaikan akses vital bagi masyarakat.
Janji Perubahan: Program prioritas yang dianggap hanya menjadi jargon politik tanpa realisasi konkret.
“Kalau pemerintah bekerja benar, tidak perlu takut pada mahasiswa. Tapi jika kritik saja dianggap ancaman, itu berarti ada yang ingin ditutupi,” tambah Yunus
Meski dihujani sindiran dan tekanan moral, mahasiswa menegaskan tidak akan mundur selangkah pun. Bagi mereka, jabatan bupati bukanlah mandat tanpa batas, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
“Kami tegaskan, mahasiswa bukan musuh negara, tapi pengingat bagi penguasa. Jabatan Bupati bukan mahkota raja, melainkan amanah rakyat. Jika amanah itu dikhianati, maka kritik akan berubah menjadi perlawanan,” pungkas Yunus dengan nada bergetar.
Hingga berita ini diturunkan, gelombang solidaritas mahasiswa di Aceh Singkil diprediksi akan terus membesar sebagai respons atas sikap antikritik yang ditunjukkan oleh pemangku kebijakan. Sejarah kini tengah mencatat: apakah kekuasaan akan terus tertawa, atau akhirnya tunduk pada suara jelata.




























