Radar Singkil | – Gelombang kecaman menghantam Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil menyusul rencana pengadaan mobil dinas Bupati senilai Rp2,6 miliar. Langkah ini memicu reaksi keras dari Alfa Salam, Presiden Mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh (TDM), yang menyebut kebijakan tersebut sebagai potret nyata kegagalan empati dan matinya nurani kekuasaan.
Di saat masyarakat Aceh Singkil masih terseok-seok melakukan pemulihan pasca-bencana banjir, Pemkab justru dinilai mempertontonkan gaya hidup mewah yang tidak etis. Alfa Salam menegaskan bahwa anggaran miliaran rupiah tersebut merupakan uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk menyambung hidup warga, bukan untuk mempertebal kenyamanan pejabat.
”Ini adalah tamparan keras bagi akal sehat. Rakyat kehilangan penghasilan dan bantuan belum merata, tapi pemerintah malah sibuk berhias dengan fasilitas mewah. Jika tidak bisa berpihak pada rakyat yang sedang sulit, lebih baik turun dari jabatan!” tegas Alfa dengan nada tajam.
Kritik Alfa semakin pedas saat ia mengaitkan rencana ini dengan rentetan kebijakan “foya-foya” sebelumnya. Ia menyoroti isu pengadaan iPhone 16 Pro dan iPad senilai Rp90 juta pada 2025 yang kini disusul dengan mobil dinas miliaran rupiah di tahun 2026.
Menurut Alfa, Rp2,6 miliar bukanlah angka kecil. Dana tersebut mampu mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat yang lumpuh akibat bencana. Ia menilai Bupati Aceh Singkil akan kehilangan legitimasi moral jika tetap memaksakan pengadaan ini.
”Kebijakan ini salah arah dan menyakitkan. Pemerintah daerah tampak terputus dari realitas penderitaan rakyatnya sendiri. Mereka menganggap krisis kemanusiaan bukan sebagai kondisi darurat,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Alfa Salam mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh Singkil untuk membuka mata dan berani mengoreksi kebijakan yang mencederai keadilan publik. Ia menekankan bahwa pemimpin yang minim empati hanya akan melahirkan kebijakan yang menyengsarakan.
”Diam berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung. Aceh Singkil butuh pemimpin yang hadir saat rakyat susah, bukan yang menikmati kemewahan di atas air mata masyarakat,” pungkasnya.




























