Radar Singkil | – Suasana di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Singkil, Selasa (17/6/2025), mendadak berubah menjadi lautan euforia. Massa yang awalnya datang untuk membahas persoalan empat pulau yang selama ini beralih ke Sumatera Utara, sontak bersorak gembira setelah menerima kabar bahwa keempat pulau tersebut resmi dikembalikan kepada Aceh.
Ratusan warga yang berkumpul di kawasan Kampung Baru, Singkil Utara, semula bersiap mengikuti pertemuan dengan anggota DPRK guna mencari kejelasan status Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Besar, dan Pulau Mangkir Kecil—empat pulau yang selama bertahun-tahun menjadi sengketa batas wilayah antara Aceh dan Sumatera Utara.
Namun, sebelum pembahasan dimulai, kabar gembira itu datang. Pertemuan resmi pun batal digelar. Sebagai gantinya, halaman kantor dewan seketika dipenuhi pekikan takbir, pelukan, dan air mata haru. Massa bersujud syukur, sementara sebagian lainnya mengibarkan bendera Aceh dan meneriakkan yel-yel kemenangan.
Bupati Aceh Singkil, Safriadi, bersama Ketua DPRK Amaliun, sejumlah anggota dewan, tokoh ulama, tokoh adat, serta tokoh masyarakat, turut turun ke halaman dan membaur bersama masyarakat. Mereka ikut larut dalam sukacita yang menggelegar.
Dalam kesempatan itu, Bupati Safriadi menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Presiden Prabowo Subianto atas keputusan pengembalian empat pulau tersebut kepada Aceh.
“Jadi kita bersyukur kepada Allah SWT, terima kasih kepada Pak Presiden. Ini khusus atas dikembalikannya empat pulau tersebut,” ujar Safriadi dengan suara bergetar, disambut takbir dari massa.
Selain kepada Presiden, Safriadi juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Dalam Negeri, Gubernur Aceh, Gubernur Sumatera Utara, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelesaian batas wilayah itu.
Ketua DPRK Aceh Singkil, Amaliun, menambahkan bahwa kemenangan ini adalah hasil jerih payah seluruh rakyat Aceh.
“Kami sampaikan terima kasih kepada seluruh rakyat Aceh,” ucapnya lantang.
Kembalinya Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Besar, dan Pulau Mangkir Kecil menutup salah satu babak panjang perjuangan masyarakat Aceh Singkil. Hari itu, halaman DPRK bukan lagi arena dialog—melainkan panggung kebahagiaan kolektif yang akan dikenang lama oleh warga Aceh Singkil.




























