RADAR SINGKIL – Langit di atas Desa Pemuka Aceh Singkil, tak lagi mengenal warna biru. Sejak Minggu siang (22/2), cakrawala berubah menjadi kelabu pekat yang menyesakkan. Bukan mendung pertanda berkah hujan, melainkan jelaga dari paru-paru bumi yang tengah sekarat dilalap api.
Kebakaran hebat kini mengoyak lahan gambut di Blok 50 Divisi 2 Unit 1 Regional 2, area konsesi milik raksasa perkebunan sawit PT Nafasindo. Hingga Senin (23/2), diperkirakan 30 hektare lahan telah luluh lantak menjadi arang. Namun, horor belum usai si jago merah masih menunjukkan taringnya, merayap lapar menuju blok-blok produktif di sekitarnya.
Tragedi ini bermula pada Minggu tengah hari, tepat saat matahari berada di puncak kulminasi. Cuaca ekstrem yang memanggang bumi, berpadu dengan hembusan angin kencang, mengubah hamparan gambut kering menjadi sumbu raksasa.
Kesulitan utama bukan sekadar api yang terlihat di permukaan. Api telah bermutasi menjadi ground fire (api bawah tanah), merayap licin di bawah lapisan gambut yang membuatnya mustahil dipadamkan hanya dengan siraman air biasa. Tim di lapangan kini berpacu dengan waktu dalam sebuah tantangan maut melawan musuh yang tak kasat mata di bawah kaki mereka.
Yang paling menyayat hati adalah jarak. Titik api dilaporkan hanya terpaut ±300 meter dari pemukiman warga Desa Pemuka. Garis pertahanan terakhir warga hanyalah masker kain selembar kain tipis yang tak kuasa membendung partikel halus asap yang mulai meracuni paru-paru.
”Kami khawatir kalau malam asap makin turun ke rumah. Anak-anak sudah mulai batuk,” ungkap seorang warga dengan tatapan kosong, memandang gumpalan asap yang kian merayap mendekati teras rumahnya.
Kehancuran di lahan PT Nafasindo bukan sekadar kerugian korporasi, melainkan alarm bahaya bagi ekosistem nasional. Para ahli memperingatkan dampak sistemik yang mengerikan,
Gambut yang hangus kehilangan kemampuan menyerap air. Tanpa spons alami ini, risiko banjir bandang kini menghantui Aceh Singkil saat musim penghujan tiba.
Ribuan ton cadangan karbon yang tersimpan selama berabad-abad kini terlepas bebas ke atmosfer, mempercepat laju krisis iklim global.
Habitat flora dan fauna khas rawa gambut kini musnah, menyisakan tanah tandus yang mati tanpa kehidupan.
Hingga laporan ini disusun (23/2/2026), petugas gabungan dan tim pemadam perusahaan masih berjibaku di tengah kepulan asap. Di Desa Pemuka, pertaruhannya bukan lagi soal berapa batang sawit yang hangus, melainkan tentang hak paling dasar setiap manusia, hak untuk bernapas.




























