RADARSINGKILCO, SINGKIL – 81 tahun Indonesia merdeka, dana Otonomi Khusus triliunan rupiah mengalir ke Aceh setiap tahun. Namun gaung merdeka itu berhenti di jalan aspal. Tidak pernah sampai ke pelosok.
Di Desa Guha, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil, kata merdeka masih jadi barang mewah.
Desa ini hanya dihuni 51 KK atau 210 jiwa. Kecil, namun menjadi potret buram pembangunan yang terlupakan.
Jalan rusak dan berlumpur, infrastruktur terputus, pendidikan memprihatinkan, dan layanan kesehatan tak layak menjadi santapan harian warga.
”Usia Indonesia sudah 81 tahun. Harusnya terang pembangunan sudah sampai ke sini,” keluh warga.
Kepala Desa Guha, D. Suharno Padang, menyebut desanya butuh perhatian serius, bukan janji. Baik dari Pemkab Aceh Singkil maupun Pemprov Aceh.
Ironis, saat pusat kota berlomba membangun jalan mulus, warga Guha hanya bermimpi jalan desanya bisa dilalui tanpa mendorong motor yang terjebak lumpur. Anak sekolah bersepatu lumpur, orang sakit harus menempuh puluhan kilometer dengan biaya mahal untuk berobat.
Penderitaan belum selesai. Hampir 100 persen tanah warga Guha belum bersertifikat. Padahal negara punya program PRONA / PTSL untuk keadilan agraria bagi wong cilik.
Tanpa sertifikat, warga rentan konflik lahan dan terhalang mengakses modal usaha, bantuan UMKM, hingga program pemerintah yang mensyaratkan legalitas tanah.
”Media pernah beritakan program PRONA/PTSL akan masuk desa-desa. Warga sangat berharap. Tapi hingga hari ini belum ada realisasi di Desa Guha,” ujar Suharno kecewa.
Mereka tak minta istana. Hanya ingin merasakan merdeka yang sesungguhnya,jalan layak, sekolah nyaman, berobat murah, dan selembar sertifikat sebagai pengakuan negara atas tanah tempat mereka lahir dan akan mati.
Di usia ke-81 Indonesia, Desa Guha masih menunggu jawaban, kapan merdeka benar-benar tiba di halaman rumah mereka?




























