Radar Singkil | ~ Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di jalur lintas barat selatan Aceh menuju Kota Medan kembali menuai sorotan. Pegiat sosial dan politik, Rahman S.H, melontarkan kritik keras terhadap pemerintah yang dinilainya abai dalam menjamin keselamatan pengguna jalan, terutama menjelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Rahman menilai, kondisi fisik jalan di jalur vital tersebut sudah lama berada dalam situasi mengkhawatirkan. Di berbagai titik, jalan berlubang dibiarkan tanpa penanganan serius.
Tak hanya itu, pekerjaan pengerukan aspal yang tidak kunjung dirampungkan serta minimnya pengawasan terhadap kendaraan angkutan crude palm oil (CPO) semakin memperparah risiko kecelakaan.
Situasi tersebut, menurut Rahman, kian genting karena lonjakan arus kendaraan dipastikan terjadi selama libur Nataru.
“Setiap Natal dan Tahun Baru, volume lalu lintas meningkat tajam. Namun ironisnya, pemerintah justru membiarkan jalan rusak dan angkutan berat melintas tanpa kontrol ketat. Ini kelalaian fatal yang mempertaruhkan nyawa masyarakat,” ujarnya tegas.
Ia menambahkan, rentetan kecelakaan yang terjadi belakangan ini di jalur barat selatan Aceh menuju Medan telah memakan korban jiwa dan menimbulkan kerugian materi yang tidak sedikit.
Padahal, kata Rahman, sebagian besar insiden tersebut bisa dicegah jika pemerintah serius melakukan pemeliharaan jalan dan pengawasan lalu lintas, khususnya pada periode rawan seperti Nataru.
Rahman S.H pun mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera bertindak. Ia meminta perbaikan menyeluruh terhadap infrastruktur jalan, penyelesaian pengerukan aspal yang terbengkalai, serta pengetatan pengawasan terhadap kendaraan angkutan CPO, terutama terkait muatan berlebih dan standar keselamatan yang kerap diabaikan hingga menyebabkan tumpahan di ruas Meulaboh–Subulussalam sampai Pakpak Bharat.
“Keselamatan pengguna jalan adalah tanggung jawab negara. Di tengah padatnya arus mudik dan libur Nataru, pemerintah harus hadir dan memastikan jalur lintas barat selatan benar-benar layak dan aman dilalui,” pungkas Rahman S.H.




























