Radar Singkil | — Kejanggalan serius menyelimuti distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Aceh Singkil, terutama di sejumlah SPBU. Meski pasokan diklaim masuk setiap hari, masyarakat justru dihadapkan pada antrean panjang yang tak kunjung terurai, memaksa warga menunggu hingga berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter bahan bakar.
Sorotan utama mengarah ke SPBU Gunung Meriah, namun situasi serupa juga terpantau di SPBU Simpang Kanan, wilayah Singkil Utara hingga kawasan Pulau Sarok. Hampir setiap hari, truk tangki pengangkut BBM terlihat menyalurkan muatan. Namun ironisnya, kondisi lapangan menunjukkan sebaliknya: kelangkaan di jalur resmi justru semakin terasa.
“Setiap hari minyak masuk, tapi SPBU selalu penuh. Ke mana sebenarnya minyak ini mengalir?” ungkap RS, warga Kecamatan Gunung Meriah, Minggu (7/12), mewakili kegelisahan publik.
Fenomena ini memicu dugaan kuat adanya praktik penyelewengan dalam rantai distribusi, bahkan disinyalir melibatkan oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan situasi. Kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari dua pekan tanpa kejelasan solusi.
Di saat masyarakat kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi, para pedagang eceran justru memanfaatkan situasi dengan menaikkan harga secara tidak wajar. BBM dijual dengan harga melambung, mencapai Rp40.000 hingga Rp50.000 per liter, jauh melampaui harga resmi yang ditetapkan pemerintah.
Masyarakat kini mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan, mengusut tuntas dugaan “permainan oknum” dalam distribusi BBM di Aceh Singkil, serta membongkar mata rantai yang diduga merugikan rakyat.
Jika dibiarkan, krisis ini dikhawatirkan akan terus menyengsarakan masyarakat dan memperlebar jarak kepercayaan publik terhadap pengawasan distribusi energi di daerah.




























