Radar Singkil | ~ Krisis bahan bakar minyak (BBM) menghantam Kabupaten Aceh Singkil. Dalam beberapa hari terakhir, warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM jenis Pertalite maupun Solar, baik di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) maupun di tingkat pengecer. Kondisi ini membuat harga BBM di pasar gelap melambung tinggi dan semakin memberatkan masyarakat.pada Sabtu (29/11)
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga Pertalite kini dijual antara Rp40.000 hingga Rp50.000 per liter. Bahkan di beberapa lokasi, botol Aqua besar berukuran 1,5 liter yang biasanya digunakan sebagai wadah eceran dijual hingga Rp80.000. Artinya, harga BBM di pasar gelap mencapai 4–5 kali lipat dari harga resmi yang ditetapkan pemerintah.
Kelangkaan ini tidak terjadi tanpa sebab. Banjir yang melanda wilayah Aceh Singkil dalam beberapa hari terakhir menyebabkan jalur distribusi BBM terganggu. Sejumlah akses menuju SPBU terendam, membuat pasokan terlambat masuk. Di sisi lain, beberapa SPBU dilaporkan kehabisan stok sehingga antrean panjang tak lagi terlihat digantikan dengan warga yang harus beralih ke penjual eceran dengan harga tak masuk akal.
“Biasanya saya menghabiskan Rp20 ribu untuk motor sehari-hari. Sekarang harus keluar dua sampai tiga kali lipat. Berat sekali,” keluh seorang warga yang ditemui di kawasan Gunung Meriah.
Situasi ini semakin memprihatinkan bagi para pekerja yang bergantung pada kendaraan bermotor, termasuk nelayan, serta pedagang yang melakukan mobilitas harian. Mereka berharap pemerintah daerah, Pertamina, dan pihak terkait segera mengambil langkah cepat dan terukur untuk menormalkan kembali distribusi BBM.
Warga juga meminta agar pengawasan diperketat untuk mencegah aksi penimbunan dan permainan harga oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Hingga berita ini diturunkan, kebutuhan BBM di Aceh Singkil masih jauh dari kata stabil. Masyarakat berharap segera ada solusi, agar aktivitas harian kembali berjalan normal di tengah kondisi daerah yang sedang dipulihkan dari dampak banjir.(Red)




























