Radar Singkil | – Kabupaten Aceh Singkil kembali berada dalam situasi darurat. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti sejak pertengahan November membawa dampak katastropik bagi wilayah ini.
Tak hanya menghadapi luapan sungai yang merendam permukiman, ancaman longsor kini memutus nadi transportasi vital, melumpuhkan aktivitas warga di sembilan kecamatan.
Bencana hidrometeorologi ini bermula dari meluapnya dua sungai besar, Sungai Lae Cinendang dan Lae Soraya, yang tak lagi mampu menampung debit air hujan. Sejak Rabu (19/11), air mulai merendam dataran rendah dan desa-desa di bantaran sungai.
Laporan terkini mencatat setidaknya sembilan kecamatan terdampak langsung, meliputi:
Gunung Meriah, Singkil Utara, Kuta Baharu.
Singkil, Simpang Kanan, Suro.
Danau Paris, Singkohor, dan Kuala Baru.
Dampak paling signifikan dirasakan di Kecamatan Kuta Baharu, yang kini terisolasi total akibat Jembatan Tinanggam di Desa Butar terendam air.
Sementara di ibu kota kabupaten, Kecamatan Singkil, lebih dari 16 desa terendam banjir.
Di Jalan Mitigasi Bencana Pea Bumbung, ketinggian air bahkan dilaporkan mencapai 80 sentimeter, membuat kendaraan roda dua maupun empat sulit melintas.
Belum surut air merendam, bencana susulan berupa tanah longsor terjadi pada Senin (24/11) dini hari.
Material tanah dan bebatuan menimbun badan jalan nasional di lintasan Singkil–Subulussalam dan Singkil–Tapanuli Tengah.
Titik-titik kritis longsor teridentifikasi di Desa Lipat Kajang, Kain Golong, Situbuh Tubuh, Lae Balno, hingga Napagaluh. Kerusakan infrastruktur pun tak terelakkan:
Jembatan Putus: Abutmen jembatan di Desa Suka Makmur dan Desa Ujung amblas, memutus total konektivitas antar desa.
Sekolah Rusak: Dinding SDN di Desa Mukti Harapan jebol dihantam material longsor.
Lumpuhnya Fasilitas Publik
Banjir kali ini tidak pandang bulu. Pusat pelayanan publik yang menjadi tumpuan warga ikut lumpuh total. Air merendam kompleks perkantoran vital, mulai dari Rumah Dinas Pendopo Bupati, Puskesmas, Kantor Dinas Kabupaten, hingga markas keamanan seperti Kodim 0109, Koramil, dan Polsek.
Layanan keuangan dan administrasi pun terhenti sementara karena Kantor BSI, Samsat, dan Kantor Pajak turut terendam.
Data Korban Terdampak
Hingga saat ini, pendataan masih terus dilakukan di tengah sulitnya akses. Namun, data sementara dari Kecamatan Gunung Meriah menunjukkan ribuan jiwa terdampak:
Desa Sidorejo: 314 KK (1.256 jiwa)
Desa Rimo: 97 KK (364 jiwa)
Desa Cingkam: 80 KK (320 jiwa)
Desa Tanah Merah: 25 KK (88 jiwa)
Desa Panjahitan: 18 KK (72 jiwa)
Angka ini diprediksi akan terus bertambah seiring masuknya laporan dari desa-desa yang masih terisolasi.
Situasi Terkini: Waspada dan Siaga
Hingga pukul 15.00 WIB, kondisi di lapangan masih sangat fluktuatif. Hujan ringan masih mengguyur beberapa titik, dan debit air sungai belum menunjukkan tanda-tanda surut yang signifikan.
Tim gabungan dari BPBD, TNI/Polri, dan relawan kini berjibaku membuka akses jalan yang tertutup longsor dan mengevakuasi warga yang terjebak. Kebutuhan mendesak saat ini meliputi bantuan logistik, air bersih, serta posko pengungsian yang layak bagi ribuan warga yang kehilangan tempat berteduh sementara.




























