Radar Singkil | — Setelah sempat memicu kekecewaan mendalam di kalangan warga, kedatangan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, ke Kabupaten Aceh Singkil akhirnya membawa angin segar bagi masyarakat, khususnya para petani. Kekecewaan itu sempat memuncak saat warga dilarang membentangkan spanduk aspirasi saat menyambut gubernur pada Jumat (27/6/25).
Namun beberapa jam setelahnya, luka itu seolah terobati berkat kesediaan Gubernur menggelar pertemuan khusus dengan para petani.

Pertemuan tersebut berlangsung di kediaman Yakarim Munir, seorang tokoh masyarakat sekaligus aktivis pro-rakyat yang dikenal luas karena konsistensinya dalam membela hak-hak masyarakat kecil di Singkil. Yakarim menjadi fasilitator utama pertemuan tersebut, membuka ruang aman bagi warga untuk menyampaikan langsung berbagai persoalan yang mereka hadapi kepada orang nomor satu di Aceh.
Di lokasi yang sederhana namun sarat makna, Gubernur Aceh mendengar langsung keluhan dan pertanyaan warga, mulai dari konflik lahan hingga persoalan batas wilayah Aceh-Sumut yang selama ini menimbulkan keresahan.
Dalam sesi dialog terbuka itu, Gubernur Muzakir Manaf menjawab semua pertanyaan dengan lugas dan menenangkan. Ia menegaskan bahwa persoalan tanah atau kebun yang selama ini diklaim secara sepihak oleh perusahaan akan kembali kepada siapa yang memang berhak.
Ia juga menegaskan bahwa soal batas wilayah Aceh-Sumut tetap akan berpatokan pada ketetapan resmi pemerintah.
Antusiasme warga terlihat jelas sepanjang pertemuan. Kesempatan bertatap muka langsung dan menyampaikan persoalan tanpa perantara dianggap sebagai langkah konkret yang menunjukkan kepemimpinan yang merakyat.
“Siang tadi kami kecewa karena tak bisa membuka spanduk dan menyampaikan aspirasi. Tapi sekarang hati kami lega. Gubernur benar-benar mendengar,” ujar seorang warga
Namun di tengah pujian terhadap Gubernur, suara kritis justru mengarah kepada Bupati Aceh Singkil, H. Safriadi alias Oyon. Banyak warga menilai Bupati tidak menunjukkan empati terhadap masalah rakyat kecil.
“Beliau lebih berpihak kepada pengusaha dan pemodal. Tidak ada upaya dari beliau untuk mempertemukan kami dengan perusahaan, apalagi memfasilitasi dialog,” ungkap seorang warga lainnya.
Beberapa tokoh masyarakat menilai Bupati tampak abai dan lebih memilih menjaga hubungan baik dengan kelompok berkepentingan daripada memperjuangkan suara rakyat. Sebaliknya, Yakarim Munir dianggap hadir sebagai tokoh penggerak, membuka pintu dialog yang selama ini tertutup.
Dengan adanya pertemuan ini, warga berharap janji-janji yang disampaikan Gubernur tidak berhenti sebagai retorika, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata. Mereka juga mendesak agar pemerintah kabupaten mengambil peran aktif, bukan menjadi penonton dalam konflik antara masyarakat dan perusahaan.




























