RADAR SINGKIL – Niat mulia untuk meringankan beban para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pascabencana hidrometeorologi 2026 di Kabupaten Aceh Singkil kini justru memicu kegaduhan.
Penyaluran bantuan Tahap I bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang terdampak banjir kini berada di bawah sorotan tajam setelah munculnya perbedaan nominal yang diterima para guru.
Bantuan yang diharapkan menjadi penawar duka bagi para pendidik ini dilaporkan memiliki jumlah yang bervariasi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari serambinews, para guru menerima besaran dana yang berbeda-beda, berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 350.000 per orang. Ketua PGRI Kabupaten Aceh Singkil, M. Najur, menyampaikan terkait asal-usul anggaran tersebut. Menurutnya, bantuan ini merupakan bentuk solidaritas PGRI yang disalurkan melalui Tim Satgas Sigap PGRI setempat pada 11 dan 12 April 2026.
”Penetapan besaran ini didasarkan pada hasil analisis data dan verifikasi validitas yang dilakukan oleh Tim Satgas Sigap Bencana PGRI Provinsi Aceh terhadap pendataan online yang disebarkan pascabencana,” ungkap M. Najur.
Meskipun diklaim telah melalui proses verifikasi data online, metode ini justru menuai kritik dari berbagai pihak. Penggunaan data digital tanpa kroscek lapangan yang mendalam dianggap rentan terhadap ketidakadilan.
Pemerhati daerah, Budi Harjo, secara terbuka melontarkan kritik pedas pada Rabu (15/4/2026). Ia mempertanyakan objektivitas di balik angka-angka tersebut.
Apakah kriteria yang menentukan seorang guru layak menerima Rp 200 ribu atau Rp 350 ribu disampaikan secara transparan kepada publik dan penerima?
Sejauh mana tim di tingkat provinsi benar-benar melakukan verifikasi lapangan yang nyata, bukan sekadar melihat angka di atas kertas?
Muncul kekhawatiran apakah penentuan nilai ini dipengaruhi oleh faktor kedekatan, jabatan, atau kepentingan subjektif lainnya.
”Tanpa transparansi yang jelas, niat baik ini justru menimbulkan kesan adanya ‘pilih kasih’ di tengah musibah. Jangan sampai pahlawan pendidikan kita merasa dibeda-bedakan saat mereka sama-sama sedang tertimpa bencana,” tegas Budi Harjo.
Kini, bola panas berada di tangan PGRI Provinsi Aceh dan Kabupaten Aceh Singkil. Para guru yang menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan anak bangsa di wilayah pelosok Aceh Singkil menanti kejelasan: Mengapa penderitaan yang sama dihargai dengan angka yang berbeda?
Polemik ini diharapkan segera menemukan titik terang agar semangat solidaritas yang menjadi fondasi PGRI tidak luntur akibat isu ketimpangan penyaluran bantuan.




























