RADAR SINGKIL – Langit Aceh Singkil mungkin mulai cerah pasca-bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa waktu lalu. Namun, mendung ketidakpastian justru kini bergelayut di benak ratusan pendidik. Kabar baik mengenai penyaluran bantuan bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) korban banjir Tahap I Tahun 2026 yang seharusnya menjadi oase, kini justru memicu tanda tanya besar.
Demi alasan ketertiban dan efisiensi, panitia membagi proses distribusi ke dalam dua zona waktu dan lokasi yang berbeda:
ZONA I: Sabtu, 11 April 2026 di UPTD SPF SDN Sianjo Anjo.
ZONA II: Minggu, 12 April 2026.
Sebanyak 542 pahlawan tanpa tanda jasa tercatat sebagai penerima manfaat. Namun, di balik angka tersebut, ada sebuah rahasia yang disimpan rapat, Berapa nominal yang sebenarnya diterima oleh setiap guru.
Ironisnya, bantuan yang bersumber dari semangat solidaritas ini dibalut dengan aroma ketertutupan. Upaya awak media untuk menggali transparansi anggaran seolah menabrak tembok tinggi.
Wakil Ketua PGRI Aceh Singkil, Zainal Simatupang, yang memimpin langsung jalannya pembagian bantuan, memilih untuk tidak bersuara. Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp terkait besaran nominal dan mekanisme penetapan penerima, tidak ada satu kata pun yang terbalas.
Bungkamnya pihak penyelenggara menciptakan ruang spekulasi yang liar di kalangan masyarakat.
”Bantuan ini adalah hak para guru yang tertimpa musibah. Namun, tanpa kejelasan angka, bagaimana kami bisa memastikan keadilan telah tersalurkan?” Suara salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.
Langkah memberikan bantuan di tengah masa pemulihan bencana memang patut diacungi jempol sebagai bentuk kepedulian nyata. Namun, kepedulian tanpa transparansi adalah resep sempurna bagi munculnya prasangka.
Di saat para guru berjuang bangkit dari sisa-sisa lumpur banjir yang merendam kediaman mereka, mereka kini dipaksa menghadapi kabut informasi dari organisasi yang seharusnya mengayomi mereka.
Kini, pertanyaan besar menggantung di udara Aceh Singkil, Jika ini adalah amanah untuk kemanusiaan, mengapa besaran rupiahnya harus menjadi misteri.




























