Radar Singkil | Transparansi dan kinerja Baitul Mal Aceh Singkil kembali menjadi sorotan tajam. Pemerhati daerah, Budi Harjo, secara tegas mempertanyakan peran lembaga tersebut dalam mengelola dan menyalurkan zakat kepada masyarakat, khususnya di bulan suci Ramadhan.
Menurut Budi Harjo, publik kini mulai bertanya-tanya mengenai keberadaan dan fungsi nyata Baitul Mal. Pasalnya, di tengah kebutuhan masyarakat yang tinggi, justru terlihat kepala daerah, Syafriadi Oyon, turun langsung membagikan zakat secara pribadi kepada masyarakat.
“Ini yang menjadi pertanyaan besar di tengah masyarakat. Jika kepala daerah sampai harus turun membagikan zakat secara pribadi, lalu di mana fungsi dan peran Baitul Mal Aceh Singkil sebagai lembaga resmi pengelola zakat?” tegas Budi Harjo.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pengelolaan zakat di daerah belum berjalan secara maksimal. Padahal, Baitul Mal dibentuk dengan kewenangan dan anggaran untuk menghimpun serta menyalurkan zakat secara profesional, terarah, dan tepat sasaran.
“Jangan sampai lembaga yang dibentuk untuk mengelola dana umat justru tidak terlihat perannya ketika masyarakat sangat membutuhkan. Ini bukan sekadar soal administrasi, tapi soal kepercayaan umat,” ujarnya.
Budi Harjo juga menekankan bahwa zakat bukan sekadar bantuan sosial biasa, melainkan amanah umat yang harus dikelola secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
“Publik berhak tahu berapa dana zakat yang dihimpun, bagaimana mekanisme penyalurannya, dan siapa saja penerima manfaatnya. Jika tidak ada keterbukaan, maka wajar jika masyarakat mulai mempertanyakan kinerja Baitul Mal Aceh Singkil,” katanya.
Ia mendesak agar Baitul Mal segera menyampaikan laporan terbuka kepada masyarakat mengenai pengelolaan dana zakat, terutama pada momentum Ramadhan yang seharusnya menjadi momen utama bagi lembaga tersebut untuk menunjukkan perannya membantu fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan.
“Jangan sampai masyarakat menilai Baitul Mal hanya sekadar lembaga formal tanpa dampak nyata. Transparansi dan kerja nyata harus ditunjukkan agar kepercayaan masyarakat tidak hilang,” tutup Budi Harjo.




























