RADAR SINGKIL – Suasana politik di Aceh Singkil mendadak memanas menjelang rencana aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 03 mendatang. Bukan karena substansi tuntutannya, melainkan karena tudingan miring mengenai aktor intelektual di balik gerakan tersebut.
Pemerhati daerah, Budi Harjo, secara blak-blakan melontarkan kritik pedas. Ia mencium aroma “orkestrasi” kekuasaan yang sengaja menyulut api demonstrasi demi kepentingan politik terselubung, bukan murni aspirasi akar rumput.
Budi menilai ada pola yang tidak wajar dalam persiapan aksi kali ini. Ia menyoroti mobilisasi massa yang terstruktur dan narasi yang seragam di berbagai lini massa sebagai indikasi kuat adanya campur tangan elite.
“Jangan jadikan rakyat sebagai properti politik. Jika demo ini digerakkan oleh tangan-tangan kekuasaan yang ingin mengatur panggung opini, maka ini bukan perjuangan, melainkan rekayasa,” tegas Budi dengan nada keras.
Menurutnya, gerakan yang seharusnya berfungsi sebagai kontrol sosial kini berisiko terdegradasi menjadi instrumen tekanan politik. Ia mengkhawatirkan masyarakat hanya dijadikan tameng untuk mengamankan posisi elite tertentu.
Lebih lanjut, Budi memperingatkan bahwa manipulasi isu yang seolah-olah mengatasnamakan suara rakyat adalah bentuk cedera terhadap akal sehat publik. Ia meminta masyarakat Aceh Singkil untuk lebih jeli dan tidak mudah terseret arus agitasi yang tidak berakar pada kebutuhan nyata warga.
Beberapa poin kritis yang disoroti Budi Harjo antara lain,
Pola Mobilisasi: Terlihat terlalu rapi dan terstruktur untuk sebuah gerakan spontan.
Narasi Seragam: Adanya penggiringan isu sepihak yang masif di ruang publik.
Stabilitas Daerah: Peringatan agar keamanan daerah tidak dijadikan komoditas politik.
Menutup pernyataannya, Budi menantang para inisiator aksi untuk bersikap ksatria dan terbuka mengenai sumber pendanaan serta aktor yang berdiri di belakang mereka.
“Kalau memang ini murni suara rakyat, buka semuanya secara transparan. Jangan ada sutradara bayangan. Jangan ada skenario tersembunyi. Publik berhak tahu siapa yang sebenarnya bermain,” pungkasnya lantang.
Hingga berita ini diturunkan, tensi diskusi di tengah masyarakat Aceh Singkil terus meningkat, menunggu pembuktian apakah aksi tanggal 03 mendatang benar-benar murni suara rakyat atau sekadar drama politik di atas panggung demonstrasi.




























