RADARSINGKIL.CO — Ada doa yang Allah jawab seketika, tetapi ada pula doa yang disimpan, dipelihara, lalu dikabulkan pada waktu yang paling indah. Kisah dari bumi Syekh Abdurrauf As-Singkili ini menjadi bukti nyata bahwa tidak ada doa yang sia-sia ketika dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.
Setahun yang lalu, tepatnya pada Jumat, 1 Agustus 2025, suasana haru menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Sikoran, Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil. Di usia 78 tahun, Sailon Berutu seorang tokoh agama Persatuan Agama Malim Adat Budaya Beringin Indonesia (PAMBI) dengan hati yang mantap mengucapkan dua kalimat syahadat.
Momen suci yang dipandu oleh Ustadz Maruli Tumangger, M.Ag tersebut mengubah arah hidupnya untuk selamanya.Namun, di balik kebahagiaan hari itu, tersimpan satu harapan yang masih menggantung. Perempuan yang telah menemaninya mengarungi samudra kehidupan selama puluhan tahun, Rekken Beru Tumangger, saat itu masih bertahan pada keyakinan lamanya.
Bagi sebagian orang, perbedaan keyakinan dalam rumah tangga mungkin memicu kekecewaan. Namun, Sailon Berutu memilih jalan mulia yang diajarkan Islam,bersabar, tetap mencintai tanpa syarat, tidak memaksa, dan terus memohon lewat doa.
”Kalau selama ini kami bersama dalam suka dan duka kehidupan dunia, semoga Allah juga mempertemukan kami dalam iman, hingga kelak bersama-sama menuju surga-Nya,” ucap Sailon dalam doa-doa sederhananya.
Setiap usai salat dan di kesunyian malam, linangan air mata senantiasa menyertai harapannya agar sang istri mendapatkan cahaya yang sama. Hari demi hari berlalu, bulan berganti bulan, hingga genap satu tahun penantian penuh kesabaran itu diuji.
Penantian panjang itu akhirnya membuahkan hasil manis. Pada Jumat, 24 Juli 2026, hari yang penuh keberkahan, Allah SWT menunjukkan kuasa-Nya sebagai sebaik-baik Pemberi Hidayah.
Dengan kesadaran penuh dan ketulusan hati, Rekken Beru Tumangger mantap mengikrarkan dua kalimat syahadat untuk memeluk agama Islam, menyusul jejak suami yang telah lebih dahulu mendapat petunjuk.
Prosesi pensyahadatan berlangsung khidmat di kediaman anak kandung mereka, Muhammad Syahrul Berutu, yang telah lebih dulu memeluk Islam sejak masa mudanya. Suasana penuh haru kembali dipandu oleh Ustadz Maruli Tumangger, M.Ag, serta disaksikan oleh anak-anak, keluarga besar, tetangga, hingga tokoh agama dan masyarakat setempat.
Isak tangis bahagia tak terbendung ketika kalimat tauhid terucap lirih namun mantap dari bibir Ibu Rekken. Anak-anak meneteskan air mata haru, keluarga saling berpelukan, dan para saksi serentak mengagungkan nama Allah SWT atas mukjizat hidayah tersebut.
Hari itu, bukan sekadar seorang ibu yang memeluk Islam, melainkan sebuah keluarga yang akhirnya dipersatukan kembali dalam ikatan akidah yang sama.
Kisah indah dari Danau Paris ini mengajarkan bahwa hidayah bukanlah hasil dari perdebatan atau paksaan, melainkan cahaya yang Allah tanamkan lewat kelembutan, keteladanan, dan doa yang tak putus-putus. Sebagaimana firman Allah SWT,
”Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Qashash: 56)
Semoga keteguhan iman Sailon Berutu dan Ibu Rekken Beru Tumangger senantiasa dijaga oleh Allah SWT, dimudahkan dalam menuntut ilmu agama, serta dianugerahi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah hingga dipertemukan kembali di surga-Nya.



























