RADAR SINGKIL | – Tradisi Meugang yang seharusnya penuh keberkahan menyambut Ramadan justru menyisakan aroma tak sedap di Desa Kampung Baru, Kecamatan Singkil Utara.
Aliansi Muda Penggerak Aceh Singkil (AMPAS) melontarkan kritik pedas setelah mendapat laporan adanya pembagian daging sapi yang diduga sudah berbau busuk kepada warga setempat.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari Sekretaris Jenderal AMPAS, Budi Harjo. Menurutnya, insiden ini bukan sekadar masalah teknis distribusi, melainkan cerminan buruknya integritas dan transparansi dalam proses pengadaan bantuan untuk rakyat.
Budi Harjo secara gamblang mempertanyakan motif di balik buruknya kualitas daging yang diterima masyarakat. Ia mencium adanya indikasi kelalaian serius atau bahkan potensi praktik lancung demi meraup keuntungan pribadi.
“Pertanyaannya sekarang, siapa yang diuntungkan dalam pengadaan daging ini? Apakah kualitas dikorbankan demi mengejar harga murah atau keuntungan tertentu?” tegas Budi dalam keterangannya, Rabu (18/2).
AMPAS menyoroti beberapa poin krusial yang harus segera dijawab oleh pihak terkait, Siapa rekanan atau pihak penyedia daging tersebut?
Bagaimana mekanisme penunjukan dan standar kualitas yang ditetapkan?
Sejauh mana pengawasan dilakukan sebelum daging sampai ke tangan warga?
Tak ingin persoalan ini menguap begitu saja, AMPAS mendesak Pemerintah Daerah dan instansi teknis terkait untuk segera turun tangan. Budi menegaskan bahwa kesehatan masyarakat tidak boleh dipertaruhkan hanya demi efisiensi anggaran yang mencurigakan.
Tuntutan Utama AMPAS,
Transparansi Publik, Membuka nama penyedia barang ke hadapan masyarakat.
Keterbukaan Anggaran, Mengumumkan nilai kontrak dan mekanisme pengadaan secara mendetail.
Audit Menyeluruh, Melakukan pemeriksaan pada seluruh rantai distribusi.
Sanksi Hitam: Memberikan tindakan tegas jika terbukti ada penyimpangan atau kelalaian sengaja.
Menutup pernyataannya, Budi Harjo mengingatkan bahwa Meugang adalah simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap bulan suci Ramadan bagi masyarakat Aceh.
“Jangan nodai tradisi luhur ini dengan dugaan permainan pengadaan. Jika tidak ditangani secara terbuka, publik akan terus curiga bahwa ada oknum yang sengaja bermain di balik bantuan Meugang ini,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait di Kecamatan Singkil Utara maupun dinas teknis setempat belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan daging tidak layak konsumsi tersebut.




























