Radar Singkil.co | ~ Lumbung Informasi Rakyat Aceh (LIRA) Kabupaten Aceh Singkil meminta KPK – RI (Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia) untuk menyadap Hp Komisi I DPRK Singkil, guna mengungkap potensi tindak pidana suap yang diduga akan terjadi pada proses seleksi calon KIP Aceh Singkil.
Hal ini disampaikan oleh Alexander, Sekretaris Daerah (Sekda) LIRA Aceh Singkil kepada radarsingkil.co pada Sabtu (6/5).
Menurut Alex, proses rekrutmen KIP Singkil diduga sarat dengan suap menyuap. Tidak tanggung-tanggung, untuk satu kursi calon anggota KIP diduga antara 200 sampai 300 juta.
“Saya sudah sering dengar proses rekrutmen ada indikasi suap. Tolong KPK Sadap hp DPRK itu, biar terbongkar semuanya”. Kata Alex.
Alex menyebut dirinya merasa kesal karena setiap rekrutmen calon KIP, selalu uang yang jadi topik pembicaraan utama. Padahal menurutnya integritas dan kemampuanlah yang utama.
“Siapa yang berintegritas, siapa yang mampu dari segi pengetahuan dan praktek, itulah yang harus diprioritaskan. Bukan yang punya uang”. Ujar Alex
Alex meyakini, KPK pasti bisa membuktikan indikasi suap pada proses rekrutmen KIP Aceh Singkil, karena KPK sangat ahli dalam memberantas korupsi. Alex menyebut pihaknya siap menyurati KPK RI di Jakarta asalkan dugaan suap rekrutmen KIP Singkil bisa di bongkar.
“Saya yakin KPK bisa. Secara regulasi KPK kan boleh menyadap hp. Bila perlu sadap juga nomor hp Pansel, terbongkar semuanya itu” kata Alex.
Menurut Alex, aroma suap pada seleksi KIP sangat mencederai proses demokrasi yang akan berjalan. Sebab anggota KIP itu akan bertugas untuk pemilu 2024.
Logikanya kata Alex, kalau masuk KIP pakai suap, setelah lulus mereka akan mencari uang untuk mengganti uang yang mereka serahkan untuk suap tadi.
Sehingga peluang untuk melakukan kecurangan demi mendapatkan sejumlah uang akan rentan terjadi di tubuh KIP.
“Saya tidak menuduh, tetapi kalau masuk KIP harus bayar ratusan juta, kalau lulus pikirannya pasti cari uang untuk ganti uang suap tadi “. Kata Alex.
Alex menyebutkan, orang-orang pintar masih banyak di Singkil. Tapi karena tingginya indikasi suap, akhirnya calon-calon yang punya idealisme itu tidak punya kesempatan. Karena itu kata Alex, tidak ada jalan lain selain membersihkan proses rekrutmen, agar muncul KIP yang bersih dan berintegritas. (*)




























