RADAR SINGKIL – Ironis dan memprihatinkan. Sudah lebih dari tiga bulan lamanya, bus sekolah yang menjadi urat nadi transportasi bagi pelajar di Desa Teluk Rumbia dan Rantau Gedang, Kabupaten Aceh Singkil, dibiarkan telantar dalam kondisi rusak. Hingga kini, belum ada tanda-tanda penanganan serius dari pemerintah daerah, sementara ratusan siswa setiap hari harus bertaruh nyawa di jalan raya.
Dampak dari macetnya fasilitas publik ini memaksa para pelajar beralih menggunakan sepeda motor pribadi untuk menembus jarak ke sekolah. Akibatnya, angka kerawanan lalu lintas bagi anak di bawah umur melonjak tajam, bahkan dilaporkan telah memakan korban kecelakaan.
Kondisi yang berlarut-larut ini memicu reaksi keras dari tokoh pemuda setempat. Jasman Bako, Pemuda Desa Teluk Rumbia, dengan tegas mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil untuk menghentikan sikap acuh tak acuh dan segera menyelesaikan persoalan ini pada Rabu (10/6/2026).
According to Jasman, pembiaran kerusakan bus sekolah ini adalah bukti nyata kelalaian pemerintah dalam memberikan pelayanan publik yang ramah anak.
”Sudah lebih dari tiga bulan bus sekolah tidak beroperasi secara normal. Sementara anak-anak sekolah setiap hari dipaksa menghadapi risiko di jalan raya dengan menggunakan sepeda motor. Bahkan sudah ada yang mengalami kecelakaan! Ini tidak boleh dianggap persoalan biasa. Pemerintah harus segera turun tangan sebelum terjadi hal-hal yang lebih fatal,” tegas Jasman Bako dengan nada geram.
Jasman menilai, alasan administratif atau menunggu ketukan anggaran tidak boleh dijadikan tameng oleh pemerintah daerah untuk menunda perbaikan. Baginya, setiap hari penundaan sama saja dengan memperbesar taruhan nyawa bagi para siswa dan kecemasan bagi orang tua mereka.
Ia pun menuntut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemkab Aceh Singkil untuk transparan dan memberikan kepastian, bukan sekadar janji manis.
”Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah muncul korban yang lebih parah. Keselamatan anak-anak tidak boleh menunggu! Jika memang ada kendala, sampaikan secara terbuka kepada masyarakat dan segera carikan solusi sementara agar pelajar tetap memiliki transportasi yang aman,” tambahnya.
Bagi masyarakat di pelosok Teluk Rumbia dan Rantau Gedang, bus sekolah bukanlah fasilitas pelengkap atau sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan primer yang memangkas jarak geografis menuju pusat pendidikan.
Masyarakat kini mendesak adanya langkah konkret yang cepat. Jika perbaikan armada membutuhkan waktu lama, pemerintah dituntut wajib menyediakan transportasi alternatif sementara yang menjamin keamanan anak-anak mereka.
”Kami mendesak Bupati Aceh Singkil dan seluruh pihak terkait agar segera menyelesaikan persoalan bus sekolah ini. Jangan tunggu jatuh korban berikutnya. Keselamatan pelajar adalah tanggung jawab bersama, dan pemerintah harus menjadi pihak pertama yang memastikan hak anak-anak untuk mendapatkan akses pendidikan yang aman dapat terpenuhi,” pungkas Jasman.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Teluk Rumbia dan Rantau Gedang masih menunggu respons nyata dan kehadiran pemerintah di tengah kecemasan berkepanjangan yang dialami anak-anak mereka setiap pagi. (red)




























