RADAR SINGKIL – Panggung politik Aceh Singkil mendadak membara. Marwah gedung parlemen yang seharusnya menjadi benteng terakhir aspirasi rakyat kini diguncang badai integritas. Isu pengkhianatan menyeruak setelah tiga anggota DPRK dari Fraksi Gerakan Pembangunan Berkarya (GPB) memilih balik badan dan meninggalkan barisan pengusul Hak Interpelasi.
Langkah mendadak ini memicu gelombang kecaman yang tak terbendung dari pucuk pimpinan dewan
Wakil Ketua II DPRK Aceh Singkil, Wartono, tidak lagi menggunakan bahasa diplomatis. Dengan nada bicara yang bergetar menahan geram, ia menyebut sikap ketiga rekannya itu sebagai tindakan yang memuakkan.
”Merekalah motor penggeraknya, mereka yang memicu api, tapi saat bola panas bergulir, mereka justru lari menyelamatkan diri,” tegas Wartono.
Ia menilai manuver ini bukan sekadar dinamika biasa, melainkan sebuah jebakan bagi anggota dewan lain yang sudah terlanjur berkomitmen tegak lurus pada fungsi pengawasan eksekutif.
Kritik yang lebih menusuk datang dari Juliadi Bancin. Secara blak-blakan, ia mencium aroma amis di balik mundurnya inisial HT, DM, dan RB. Publik pun mulai bertanya-tanya: Apakah ada tangan tak terlihat yang sedang bermain?
”Kami patut menduga ada intervensi atau kepentingan terselubung. Jika tidak ada sesuatu yang ‘menekan’ atau ‘menggiurkan’ di balik layar, mustahil mereka lari dari gagasan yang mereka ciptakan sendiri,” cetus Juliadi dengan pedas.
Merespons kekacauan ini, Ketua DPRK Aceh Singkil, H. Amaliun, mengambil sikap tegas. Alih-alih melandai, ia justru menaikkan tensi politik. Baginya, marwah lembaga legislatif tidak bisa ditawar atau digadaikan oleh oknum-oknum pragmatis.
Amaliun memastikan bahwa pengunduran diri ketiga anggota tersebut justru akan menjadi bahan bakar untuk mendorong eskalasi politik yang lebih tinggi: Hak Angket.
”Biarlah masyarakat yang menilai siapa yang benar-benar berjuang dan siapa yang ‘menjual’ amanahnya demi kepentingan sesaat,” ujar Amaliun dingin.
Di akhir drama ini, sebuah pesan moral yang tajam dilemparkan sebagai pengingat bagi mereka yang dianggap tak punya tulang punggung politik:
“Bertaubatlah sebelum terlambat. Jangan sampai sejarah mencatat kalian sebagai pengkhianat suara rakyat Aceh Singkil.”
Hingga saat ini, bungkamnya HT, DM, dan RB menciptakan lubang misteri yang semakin lebar di mata publik. Rakyat Aceh Singkil kini hanya bisa menonton; siapa yang bertahan di jalur amanah, dan siapa yang lumat oleh kepentingan pribadi.




























