RADAR SINGKIL |– Suhu politik di Bumi Syekh Abdurrauf As-Singkili mendadak memanas. Bukan karena kontestasi elektoral, melainkan sebuah tantangan terbuka yang dilayangkan aktivis mahasiswa kepada sosok Safriadi Oyon. Tak main-main, mahasiswa menuntut sebuah debat terbuka sebagai ajang pembuktian kualitas kepemimpinan.
Inisiator Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Aceh Singkil (SOMPAS), M. Yunus, secara lugas menyebut bahwa pernyataan-pernyataan Safriadi Oyon belakangan ini cenderung menyudutkan gerakan mahasiswa. Baginya, menyindir di ruang publik bukanlah cermin kepemimpinan yang dewasa.
“Hadapi kami secara langsung di hadapan rakyat Aceh Singkil dengan data, fakta, dan argumentasi kebijakan. Bukan dengan pernyataan yang tidak substansial,” tegas Yunus dengan nada tinggi.
SOMPAS menegaskan bahwa tantangan ini bukan sekadar bumbu politik atau upaya mencari panggung. Ini adalah perlawanan intelektual. Beberapa poin krusial yang siap “dikupas tuntas” oleh mahasiswa meliputi,
Keterlambatan pengesahan APBK yang menghambat roda ekonomi.
Tata kelola pemerintahan yang dinilai masih tertutup.
Evaluasi program kerja yang dianggap belum menyentuh kebutuhan akar rumput.
”Debat terbuka adalah ruang paling jujur dalam demokrasi. Di sana tidak ada panggung pencitraan, yang ada hanya keberanian dan kebenaran berbasis data,” tambah Yunus.
Mahasiswa menunjukkan keseriusannya dengan menawarkan format diskusi yang transparan: disiarkan luas, melibatkan akademisi, tokoh masyarakat, hingga media independen. Kini, bola panas ada di tangan Safriadi Oyon.
Sebagai penutup yang provokatif, SOMPAS memberikan tenggat waktu resmi,
“Kami memberi waktu 3×24 jam bagi Bupati untuk menyampaikan sikap resmi. Kesediaan untuk diuji adalah ciri pemimpin yang percaya diri,” pungkas Yunus.




























