Radar Singkil | – Ada yang janggal di Aceh Singkil. Meski pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) disebut masuk setiap hari ke SPBU, warga justru masih harus berjibaku dengan antrean panjang yang tak kunjung terurai, khususnya di SPBU Gunung Meriah.Minggu (7/12).
Keluhan masyarakat semakin menggema. Salah satu warga Kecamatan Gunung Meriah, RS, mengungkapkan kegelisahannya.
“Setiap hari minyak masuk, tapi SPBU selalu penuh dan masyarakat harus antre berjam-jam. Ke mana sebenarnya minyak ini?” keluhnya.
Situasi serupa juga terjadi di SPBU Simpang Kanan. Warga menilai pola antrean panjang sudah menjadi pemandangan sehari-hari, padahal truk tangki pengangkut BBM hampir setiap hari terlihat masuk ke area SPBU.
Ironisnya, kelangkaan ini sudah berlangsung lebih dari dua pekan. Di tengah sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi, para pedagang eceran justru memanfaatkan situasi. Harga BBM di tingkat pengecer melonjak tajam hingga Rp40.000–50.000 per liter, jauh dari harga resmi.
Masyarakat kini mendesak aparat penegak hukum (APH) agar segera turun tangan. Dugaan penyelewengan distribusi dan permainan oknum mulai mencuat ke permukaan, seiring hilangnya kepercayaan publik terhadap sistem pengawasan distribusi.
Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil sebenarnya telah mengeluarkan Surat Edaran Bupati Nomor 100.34.2/1769 yang melarang penimbunan dan kenaikan harga barang secara tidak wajar di tengah situasi darurat. Namun, hingga kini, masyarakat menilai kebijakan tersebut belum sepenuhnya dirasakan dampaknya di lapangan.
“Surat edaran ada, tapi realitanya kami masih susah dapat minyak,” ujar seorang warga lainnya.
Kini, tanda tanya besar menggelayut di benak masyarakat Aceh Singkil:Jika BBM masuk setiap hari, mengapa antrean justru semakin panjang?




























