RADAR SINGKIL – Aksi unjuk rasa damai yang digelar oleh ribuan massa di depan Kantor Bupati Aceh Singkil pada Senin (8/6/2026) mendadak menjadi sorotan publik. Bukan hanya karena jumlah massa yang membludak, melainkan karena adanya aksi berjoget bersama di tengah jalannya aksi yang dinilai kurang patut oleh sejumlah tokoh daerah.
Ribuan warga tersebut mendatangi kantor bupati untuk mempertanyakan kejelasan realisasi bantuan pascabanjir hidrometeorologi Aceh–Sumatra yang melanda wilayah tersebut pada tahun 2025 lalu. Massa menuntut kepastian terkait Jaminan Hidup (Jadup), stimulan ekonomi, serta bantuan kerusakan perabotan rumah tangga dari pemerintah pusat yang dinilai lambat terealisasi.
Kendati berjalan dengan aman dan tertib, jalannya aksi ini menyisakan kekecewaan bagi sejumlah pihak. Kekesalan ini dipicu oleh video yang beredar luas secara live di media sosial Facebook melalui akun Ramli Manik. Video tersebut memperlihatkan momen sejumlah emak-emak peserta aksi berjoget bersama dengan tangan di atas di halaman Kantor Bupati Aceh Singkil.
Tanggapan miring pun datang dari tokoh agama Aceh Singkil, Tgk Hambali Sinaga. Ia sangat menyesalkan tindakan euphoria yang dinilai tidak pada tempatnya tersebut.
”Aksi tersebut sangat kita sesalkan. Menyampaikan aspirasi itu hak warga, namun sangat disayangkan ketika aksi damai emak-emak menuntut jaminan hidup ini diwarnai dengan aksi berjoget-joget seperti yang terlihat di media sosial,” ungkap Tgk Hambali Sinaga.
Nada serupa juga disampaikan oleh Tokoh Masyarakat Desa Labuhan Kera, Kecamatan Gunung Meriah, Mustawa Lingga. Ia menegaskan bahwa secara substansi, masyarakat sangat mendukung perjuangan warga dalam menuntut hak-hak mereka akibat dampak banjir 2025. Namun, caranya harus tetap menjaga nilai-nilai kesopanan dan etika lokal.
Menurut Mustawa, berjoget ramai-ramai di depan fasilitas pemerintah dinilai kurang elok dan bisa mengurangi simpati publik terhadap perjuangan mereka.
“Aksi boleh saja, menuntut hak itu silakan. Tetapi jangan sampai terkesan tidak ada simpati. Jujur, terkait aksi damai ini kami sangat mendukung, tetapi jangan berjoget ramai-ramai di depan Kantor Bupati. Itu terkesan menjadi cerminan gaya hidup kita yang kurang baik,” tegas Mustawa Lingga.
Kekecewaan mendalam juga disuarakan oleh tokoh masyarakat Aceh Singkil lainnya, Asannudin Manik. Ia menyayangkan aksi joget emak-emak tersebut karena dilakukan justru di saat mereka sedang memperjuangkan hak dan nasib yang sedang kesusahan.
Sebagai informasi, aksi demonstrasi ini dipicu oleh keresahan warga yang merasa realisasi bantuan dari pemerintah pusat pascabanjir hidrometeorologi Sumatra tahun 2025 lalu berjalan lambat. Bantuan tersebut sangat dinantikan warga untuk memulihkan perekonomian dan kehidupan rumah tangga mereka yang terdampak.
Melalui aksi ini, massa menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dapat segera menjembatani aspirasi mereka ke pusat dan memberikan jawaban pasti terkait pencairan bantuan tersebut. (Red)




























